November 08, 2009

Masih Ingatkah Pertama Kali Kenal Internet?

Masih ingatkah pertama kali kamu kenal internet?


Waktu masih SMU dulu, kami cuma diajari MS-DOS. Guru-guru belum mengenalkan komputer dengan tampilan grafis seperti komputer yang sekarang banyak dipakai. Selain itu kami juga di ajari LOTUS 1-2-3. Tampilan MS-DOS dan LOTUS 1-2-3 yang hanya berupa layar berlatar hitam dan karakter cukup membuat pusing. Padahal saat itu sudah ada Windows 98. Tapi entah kenapa cuma MS-DOS dan LOTUS 1-2-3 yang diajarkan disekolah. Jadi wajar kalau siswa-siswi yang menuntut ilmu di kecamatan kecil seperti sekolahku belum pernah kenal internet. Kira-kira setelah lulus SMU dan ikut kursus komputer di Jakarta, saat itulah pertama kali aku kenal dengan internet yang dikemudian hari menjadi candu buatku.

Tampilan MS-DOS

Pengajar kursus hanya mengenalkan internet basic. Waktu itu aku cuma diajari bagaimana cara membuka halaman website, bagaimana cara membuat email, bagaimana chatting menggunakan MIRC. Tapi karena sedikit itulah aku masih ingat situs pertama yang aku buka, plasa.com. Account email pertama ada di telkom.net, tapi sudah lupa username dan passwordnya. Kalaupun ingat pasti juga sudah non-aktif karena bertahun-tahun gak pernah dibuka. Aku juga diajari mencari artikel dari searchindonesia.com. Sedikit sekali informasi yang diberikan. Beruntung salah satu teman kursusku ada yang lebih berpengalaman, dari kawanku inilah aku mulai kenal Google dan Yahoo.


Warnet belum sebanyak sekarang. Belum ada modem 3.5G dan teknologi jaringan nirkabel lainnya. Satu-satunya koneksi internet hanya telkomnet instant. Butuh perjuangan kalau ingin menikmati internet. Harus naik angkutan umum karena tempatnya lumayan jauh, pulangnya harus jalan kaki karena warnet yang sering aku kunjungi ada di jalan searah. Untung mbak-mbak yang jaga warnet lumayan cantik :p


Sebelum kuliah dulu, aku pernah kerja di sebuah indie label dan EO di Jakarta. Ditempat kerjaku itu aku sering nekad nyolong koneksi internet. Tinggal pindahin kabel telpon ke modem, aku bisa browsing sebentar mencari apa saja yang tidak diajakan ditempat kursusku. Tapi aku sedikit heran, kenapa setiap kali buka browser, langsung diarahkan ke Pondok Puteri, salah satu situs porno legendaris di Indonesia. Belakangan aku tahu kalau homepage browser bisa diatur sesuai keinginan.


Sekarang internet ada dimana-mana. Persaingan Internet Service Provider disatu sisi menguntungkan konsumen. Layanan internet semakin murah meskipun koneksinya lambat. Mudah-mudahan Menkominfo menepati salah satu janjinya mewujudkan internet murah dan berkualitas, agar internet bisa dinikmati diseluruh pelosok negeri.


Asal digunakan dengan bijak, internet terbukti sangat mampu mencerdaskan anak bangsa.

November 02, 2009

Cicak vs Serangga

Judul tulisan ini bukan untuk membahas kasus Cicak vs Buaya yang sedang ramai dibicarakan media.

Mati lampu lagi untuk ketiga kalinya dalam sehari, tiga hari berturut-turut. Sangat menyebalkan, apalagi 'giliran' kali ini terjadi malam hari. Kenapa negara kita hanya mengandalkan sumber energi dari jasad renik yang semakin menipis? Kenapa gak mengembangkan sumber energi listrik alternatif? PLTU misalnya. Padahal kita punya BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional), kita punya beberapa Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir, kita punya sarjana-sarjana nuklir yang memilih bekerja di luar negeri karena kemampuannya kurang mendapat penghargaan atau gak ada pekerjaan di negeri sendiri.

Dulu memang pernah ada wacana pembangunan PLTU, tapi rencana itu di protes warga setempat karena mendengar nama Nuklir saja mereka bergidik. Sepertinya masih banyak yang beranggapan bahwa nuklir adalah teknologi pembunuh massal. Padahal bukan itu tujuan Enrico Fermi mengembangkan reaktor nuklir.

Mati lampu malam hari dan hujan. Lengkap sudah. Aktivitas terhenti. Hanya rebahan di kasur menatap langit-langit kamar yang mulai banyak dihias rumah laba-laba di beberapa sudutnya. Sesekali terlihat kilatan petir diikuti suara menggelegar. Aku diam meratapi nasib, menatap nyala lilin di tengah asbak sambil memainkan asap rokok membentuk huruf 'O'.

Seekor serangga mendatangi arah cahaya. Beberapa detik kemudian serangga itu menggelepar di lantai, kemudian terbang tak tentu arah karena sayapnya tersengat api. Kemudian hinggap didinding, mungkin mengaduh menahan panas. Disudut lain, seekor cicak telah siap menyergap serangga naas tadi. Bergerak pelan mendekati mangsanya. Serangga bukannya tak sadar bahaya mengancam, tapi menunggu waktu yang tepat untuk menghindar dari sergapan cicak yang sedang lapar. Tanpa ancang-ancang, cicak bergerak cepat, tapi masih kalah cepat sepersekian detik karena serangga telah kabur sebelum cicak menangkapnya. Serangga hinggap dan terbang, cicak terus mengejar karena serangga yang satu itu berukuran besar, lebih dari cukup untuk santapan malamnya. Terus begitu tanpa lelah.

Hingga disatu kesempatan, serangga tadi terjebak sarang laba-laba tak bertuan disudut kamar. Cicak segera melompat menerjang mangsanya yang sedang sibuk melepaskan diri. Serangga masih berusaha melawan walaupun sebagian tubuhnya telah masuk ke mulut cicak. Sepertinya cicak cukup kesulitan menelan mangsanya yang berontak. Cerdik, cicak membawa mangsanya menyelinap di sela-sela plafon kamarku yang terbuat dari anyaman bambu. Serangga gak bisa berbuat banyak, kesulitan mengepakan sayapnya di sela plafon dan dinding. Dan cicakpun menikmati hasil kesabaran dan kerja kerasnya.

Sebuah pertunjukan biasa sebenarnya. Tapi tanpa sadar aku serius mengamati bagaimana perjuangan dua makhluk kecil itu mempertahankan hidup.

Cicak, tak pernah mengeluh meskipun ditakdirkan bahwa makanannya adalah serangga yang bisa terbang sedang cicak tak punya sayap. Jadi kenapa aku harus mengeluh?